Fb028107706d4356827a9f1c3c422113

Dari Pemungut Bola jadi Pengusaha Sukses

Berawal dari pemungut bola di lapangan tenis, Monang bangkit dari kecelakaan yang merenggut satu kakinya. “Saya dulu SD merantau ke Jakarta. Kabur naik truk mengikuti jejak kawan yang berdagang di sana. Sekitar tahun 80-an  saya ditawari kerja memungut bola tenis lapangan. Pagi jam 6 udah mulai kerja. Sorenya lagi,” katanya.

Keadaan ini membuat Monang mulai menyukai tenis. Diberikan raket oleh seseorang yang biasa berlatih di lapangan itu, Monang mulai berlatih dengan kursi rodanya. “Karena kami kerja disitu kan bebas pakai lapangan. Selagi tidak ada yang main. Ya sudah saya latihan dengan sesama pemungut bola yang lain. Lambat laun saya mulai bisa main,” ujarnya.

Dua tahun berselang ia mencoba peruntungan ikut Kejurnas Piala Ibu Tien Soeharto untuk cabang tenis kursi roda. “Saya berani-beranian ikut. Karena orang-orang di lapangan tenis menganggap saya bisa. Saya membela tim DKI. Masuk final dengan sesama DKI. Dari situ saya menang,” kenangnya. Sejak itu, pria kelahiran 10 Oktober 1962 ini pun serius menjalani karir sebagai atlet tenis meja kursi roda.  Puncaknya ia terpilih mewakili Indonesia untuk berlaga di luar negeri. Di antaranya Thailand, Korea, Jepang. “Tahun 1995 saya main ke Belanda, Melbourne baru Olimpiade antar orang cacat di Inggris. Tapi saya gugur saat seleksi di Malaysia memperebutkan kejuaraan di Amerika tahun 1997,” ungkapnya.

Dari situ ia mendapat perbekalan untuk membuat rumah boneka. Termasuk juga pembekalan di Yayasan Orang Cacat di Jakarta. Monang pun memutuskan hijrah ke Medan. Namun ia tak lantas meninggalkan karirnya sebagai atlet. Ia diminta memperkuat Sumut berlaga di PON antar orang cacat di tahun 2002 di Palembang. “Disitu sudah buat rumah Barbie.

Tapi saya mendapat tawaran dari dikontrak jadi atlet Sumut karena saya juga kelahiran Kisaran. Saya mengikuti dua cabang olahraga. Cabang tenis saya meraih emas dan lari kursi roda meraih perunggu,” tambahnya.

Setelah itu ia mulai memutuskan pensiun jadi atlet. Sempat menjadi sopir taksi lintas kota, berbekal uang bonus dari Alm Tengku Rizal Nurdin (ketika itu Gubernur Sumut, Red) Monang akhirnya konsentrasi mengembangkan usahanya. “Waktu itu dapat Rp30 juta. Dengan tabungan saya juga sebagai atlet saya kembangkan usaha ini,” lanjutnya.

Begitupun cobaan kembali hadir. Kebakaran lima tahun silam menghanguskan seluruh usahanya. Namun ia bangkit dan kembali  merintisnya  hingga berkembang seperti saat ini. Bersama istri dan dua orang anaknya, Monang kini bisa tersenyum dengan kerja kerasnya. Ia juga bisa membuka lowongan kerja untuk lima pekerjanya.  “Waktu kebakaran itu saya ikhlas saja. Yang penting keluarga saya selamat. Yang penting tetap semangat dan pantang menyerah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *