Kisahku:

Dengan Bahasa Bibir, Aku yang Tidak Bisa Mendengar

Ingin  Menjelajahi Dunia     

Perkenalkan namaku Windy Ryani.  Dipanggil Windy. Aku lahir 22 tahun yang lalu sebagai Tuna Rungu yakni tidak bisa mendengar dan bicara. Tapi aku beruntung dikelilingi keluarga yang sangat mengerti tentang keadaanku.  Mama dan Papa  memberlakukan aku seperti  layaknya anak normal seperti kakak kembarku dan 2 adikku.  Aku juga bisa membawa motor dan menyetir mobil.

 

Windy sewaktu kuliah

Saat  ini aku kuliah di perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta.  Setelah berdikusi dengan papa dan mama, aku mengambil jurusan desain grafis,  dimana jurusan ini tidak terlalu mengandalkan pendengaran, seperti keterbatasan diriku.  Dan aku juga bersyukur karena universitas  tempatku belajar  punya  pengalaman telah meluluskan  anak Tuna Rungu yang bisa mengambil  bea siswa hingga  keluar negeri.

Aku saat  ini belajar pada semester 2.  Pada semester 1   tahun ajaran 2016/2017 IP ku di atas 3 lho. Aku masuk  ke kampus ini memang  tanpa tes (tanpa seleksi) karena nilai-nilai  raport SMK ku di atas 8 (delapan)  semua.  Karena tanpa Tes,  kampus memberikan potongan  pembayaran  uang masuk kuliah. 

Sejak kecil usia 3 tahun,  mama  dan papa  menyekolahlan Aku di Taman Latihan (TL), TK dan  SD Luar Biasa.  Baru pada waktu  SMP dan SMK aku masuk sekolah  normal.  Aku sangat beruntung dan bersyukur selama  10 tahun di TK dan SD Luar Biasa Tuna Rungu Pangudi Luhur Jakarta,  Aku dididik dan diajar membaca Gerak Bibir (Bahasa Bibir).  Di sekolah yang berlokasi di Kebun Jeruk Jakarta Barat  tanpa bahasa Isyarat, bahasa yang sering dipergunakan anak Tuna Rungu.  Aku yang dulunya mengucapkan kata  Mama dan Papa saja, sangat susah, tapi  dengan Bahasa Bibir, yakni membaca gerakan bibir guru dan teman,  Aku sekarang  bisa berkomunikasi layaknya anak normal saja.

Proses Lahirku

Kata mama yang bekerja sebagai petugas kesehatan,  aku lahir prematur  dengan operasi Cesar di  rumah sakit swasta di Jakarta Timur.  Mama harus berjuang sewaktu melahirkan aku. Mama dirawat 1 bulan, sampai akhirnya di usia kehamilannya yang ke 32 minggu melahirkan aku  dengan berat  hanya 1,7 kilogram (kata ibu sebesar botol kecil).  Sedangkan kakak kembarku lahir dengan berat  2,2 kilogram dan lahir sebagai anak normal.

 Ohhh, mama bercerita   pada usia kehamilan yang ke 30 minggu telah pecah air ketuban.  Dan atas anjuran dokter spesialis  dianjurkan memberikan pematangan paru.  Tapi Mama hanya mampu bertahan  32 minggu hingga aku lahir dengan resiko tinggi, karena mama memiliki tekanan darah  tinggi sewaktu melahirkan. Sampai-sampai dokter memberitahu pada  papa untuk memilih siapa yang akan diselamatkan Mama atau Anak Kembarnya. 

Papa  waktu itu bicara sama dokter agar diselamatkan, DUA-DUANYA.  Aku  dan kakak kembarku lahir selamat karena Mujijat Tuhan,  mamaku juga. Tapi kelahiranku sampai harus mengorbankan Mama yang dirawat selama 5 hari di ICU,  karena kejang hingga mengakibatkan penggelihatan  seperti buta.    Sewaktu kakek dan nenek membesuk mama, hanya suara mereka yang  mama dengar tanpa bisa melihat wajah mereka.  Tapi berkat perawatan  dokter dan dukungan semangat  papa dan keluarga besar  Mama sehat kembali.

 Karena terlalu kecil,   berat hanya 1,7 kg (berat rata-rata bayi normal 2,5 kg), atas saran dokter aku harus dirawat di Incubator pemanas  bayi  di rumah sakit tempatku dilahirkan.  Sementara kakak kembarku bisa langsung dibawa pulang. Jadilah selama  1 bulan aku dirawat oleh bidan, perawat dan dokter.  Mama dan papa setiap hari mengunjungi aku di rumah sakit. Tapi di usia 2 minggu menurut cerita mama kulit badanku sempat biru dan pernapasanku tidak lancar.  Hanya pertolongan Tuhan dan Mujijatnyalah aku bisa bertahan hidup di Incubator rumah sakit.

 Hingga akhirnya mama dan papa dengan perasan haru, gembira bercampur was was membawa aku ke  rumah kontrakan keluarga kecilku di Cawang Jakarta Timur. Rupanya nenekku, dari Sumatera datang membantu  mama merawat aku dan kakak kembarku. Kata mama, aku dan  kakak  sering  berebut ASI  Mamaku.  He he.. menurut cerita,  mama sampai menangis karena repotnya mengurus aku dan kakak. Tapi menurut Papa , mama menangis karena terharu dan bahagia melihat sehatnya anak kembarnya.

 Karena Asi Exculusif selama 4 bulan inilah menurut  mama,  aku dan kakak kembarku  tumbuh sehat dan gemuk.  Setelah 4 bulan lebih, baru diberi tambahan susu formula untuk bayi. 

 

Masa Kecilku 

Karena mama bekerja,maka  aku dititipkan kepada babysitter hingga umur 2 tahun  lebih. Tapi karena babysitter pulang kampung jadilah aku dirawat Ibu dan kakak pengasuh.  Sampai-sampai karena kesulitan Ibu pengasuh aku dan kakak  pernah beberapa hari  dititipkan  di penitipan bayi, 800 meter dari rumah baruku di Karang Satria Bekasi.  Terkadang juga aku dan kakak  berdua ditinggalkan mama dan papa.  Mama  bercerita, pernah menangis dan terharu menemuiku di kamar mandi rumah duduk terdiam dengan kakak kembarku.

Sampai  umur 2 tahun mama terus mengamati tingkah lakuku.  Menurut mama  aku yang memegang dan membunyikan tape dan radio keras-keras  tidak kaget seperti kakak kembarku yang terkejut dan akhirnya menangis .  Mama mulai menduga-duga ada apa yang terjadi pada diriku. Karena itu aku dibawa ke rumah sakit.  Menurut dokter aku tidak apa-apa.   Aku tidak cepat merespon suara, karena Mama kurang cerewet  juga babysitter yang mengasuh.

Pada umur 3 tahun aku dibawa Mama ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta bagian THT (Telinga Hidung dan Tenggorokan) FKUI, untuk di Tes Pendengaran  BERA  (Branistem Auditory Evoked Potential).   Hasilnya aku divonis TULI BERAT (Tuna Rungu), Telinga Kanan dan Telinga Kiri hingga  110 DB (Desibel). Sedangkan manusia normal bisa mendengar antara 0 sd 60 Desibel.

 Hasil ini sangat memukul perasaan  Mama   dan juga  Papa yang  mencoba tetap tegar.  Mama sampai menangis meratap berhari-hari melihat malangnya nasib putri kecilnya yang ternyata tidak bisa mendengar sama sekali.  Sampai-sampai 1 bulan Mama dan Papa tidak berani menceritakan kepada keluarga apa yang menimpa putri kecil kesayangannya.

Tapi  seiring berjalannya waktu, mama dan papa mulai menyadari  bahwa AKU adalah titipan yang berharga dari TUHAN.  Dimana dengan Keadaanku sebagai anak Tuna Rungu,   Nama TUHAN DIPERMULIAKAN melalui jalan hidupku.  

Selanjutnya setelah tes BERA, aku menjalani serangkaian tes permainan menguji kemampuan intelektualku.  Hasilnya sangat  mengejutkan.    Menurut dokter yang memeriksa, kemampuanku di atas rata-rata umur anak 4 tahun. Padahal usiaku masih 3,3 tahun.  Menurut dokter daya tangkapku cepat, konsentrasi cukup terpusat dan belajar cepat seperti anak-anak normal.    Dan dokter RSCM akhirnya merefrensikan aku untuk sekolah di SLB-B Taman Latihan Santi Rama Jakarta. Dokter juga menganjurkan aku memakai  Alat Bantu Dengar (ABD). Masih  kuingat  Alat Bantu Dengar yang pertama kali kupakai berbentuk poket (bisa dimasukkan di saku).

 

Masa sekolah di Santi Rama

Berbekal surat refrensi dari RSCM Jakarta, Januari 2000,  Aku mulai sekolah di SLB-B Taman Latihan Santi Rama Jakarta. Mama yang bekerja sebagai Bidan menemani aku pagi-pagi sekali naik bus kota dari rumahku di Bekasi Timur menuju arah Senen tempatku sekolah. 

Karena mama bertugas 3 shift yakni pagi, siang dan malam,  mama memilih lebih banyak kerja malam untuk dapat mengantar ke sekolah.  Sekali-sekali  papa menjemput aku yang berumur 3.5 tahun di rumah sakit tempat  mama bekerja,  sepulang dari tempat kerja di Cikarang,  bila mama bertugas siang. Aku sekolah  2 tahun di Santi Rama  Tapi menurut  mama Santi Rama masih menerapkan bahasa Isyarat bagi anak Tuna Rungu yang belajar.

Banyak suka duka yang kualami selama sekolah di Santi Rama.  Mama pernah berteriak-teriak  ke supir bus , karena aku terus di dalam di bus kota yang  langsung jalan,  sementara mama sudah turun.. Beruntung  knek mendengar teriakan mama.   Pernah  juga  Mama yang sedang hamil tua pertengahan 2001,  bergelantungan di dalam bus memelukku sepanjang perjalanan menuju sekolah ke Karamat Raya Senen Jakarta,  karena penumpang bus penuh sesak.

 

Mengenal  Bahasa Bibir

Aku sangat berterimakasih kepada dr. Rosmala Dewi,  petugas terapi wicara RSCM Jakarta yang pertama kali memperkenalkan dan mengajari aku  membaca gerak bibir (bahasa bibir) untuk mengucapkan kata mama dan papa dengan benar. Mama dan Papa sangat  bahagia sewaktu pertama kali Aku dapat mengucapkan kata Mama dan Papa dengan suara yang tepat dan jelas.

Selama 2 tahun,  seusai sekolah dari Santi Rama,  setiap minggu  Mama dan Papa membawa aku les terapi wicara dengan dr.  Ros di rumahnya Margahayu  Bekasi.  Aku yang mengenakan Alat Bantu Dengar diperkenalkan dengan nama-nama benda, buah,  binatang lengkap dengan bentuk dan warna.  Aku juga diperkenalkan pada angka 1-20, lengkap dengan bentuk dan pengucapannya. 

Dari dr. Ros lah, papa dan mama mendapat  informasi bahwa ada SLB di Jakarta Barat yang khusus menerima siswa, dengan syararat utama bisa membaca gerak bibir. Dan dr. Ros pula yang menyemangati mama dan papa untuk menyekolahkan aku di SLB Pangudi Luhur Jakarta.  (Bersambung)