Irma Suyanti

Sukses Jadi Pengusaha Dengan Jumlah Karyawan Mencapai 2500 Orang dengan Keterbatasan Fisik

Irma Suyanti merupakan anak dengan penyandang cacat yang dikarenakan penyakit polio. Seperti umumnya penyandang cacat yang lain, Ia juga kerap kali mengalami perlakuan diskriminatif karena kekurangan dirinya, mulai dari dipandang sebelah mata, dihina, direndahkan hingga diasingkan. Namun, dengan semangat yang menggebu, menjadikan Irma Suyanti sebagai seorang perempuan yang tangguh dengan semangat ala kartini.
Lulusan SMA N 1 Semarang ini percaya bahwa kekurangan tubuh tidak akan menjadikan orang untuk tidak dapat berhasil.  Karena jika Tuhan mengijinkan maka tidak ada yang tidak mungkin. Nyatanya, setelah menikah dengan Agus Priyato yang juga seorang penyandang cacat, beliau berusaha untuk dapat mandiri dengan menjalankan bisnis rumahan membuat keset dari kain perca.
Awalnya barang yang ia hasilkan dipasarkan ke tetangga, atau ke pasar terdekat. Seperti kebanyakaan persepsi masyarakat, kebanyak yang membeli hanyalah berdasarkan rasa kasihan melihat Irma, namun dengan semangat tak kenal lelah didukung dengan kualitas hasil kerajinannya itu. Produk keset miliknya mulai kebanjiran permintaan. Order barang bertambah sehingga akhirnya ia harus memperkerjakan orang.
Kini usahanya kian maju dengan merambah ke luar negeri. Pekerjanya kini mencapai 2500 orang dengan 150 diantaranya adalah penyandang cacat. Dari hasil kerja kerasnya ia mendapatkan penghasilan ratusan juga perbulan. Tak hanya itu, segudang penghargaan juga berhasil diraihnya seperti Wirausahawati Muda Teladan dari Kementrian Pemuda dan Olahraga, Penghargaan Perempuan Teladan dari Kabupaten Kebumen. Penghargaan SCTV Awards tahun 2012, penghargaan dari Neger Jepang juga berhasil di raihnya.
Kini ia telah memproduksi berbagai barang yang ia pasarkan hingga ke mancanegara. Ia juga diberi kehormatan untuk memamerkan produknya di showroom Kementrian Pemuda Dan olahraga. Ia juga aktif dalam kegiatan – kegiatan sosial terutama yang berkaitan tentang pemberdayaan kaum terpinggirkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *