Self 2 3

Hidup dengan Luka Bakar & Kebotakan, Tak Halangi 2 Perempuan Ini Tetap Cantik & Berprestasi

Tanpa penampilan sempurna, ketidakpercayaan diri sering menghantui kita. Jangankan untuk memikirkan cara untuk berprestasi, berinteraksi dengan orang lain pun tak ada nyali. Bak segalanya, kesempurnaan penampilan menjadi faktor penentu masa depan.

Berkacalah pada pengalaman Labonya Siddique dan Joanna Rowsell. Labonya Siddique adalah gadis 21 tahun asal Burlet, Inggris, dengan luka bakar di daerah leher yang cukup mencolok. Saat berumur 8 tahun, Labonya terkena ledakan yang membuatnya koma berhari-hari, juga trauma dan minder karena kondisi fisiknya tak lagi sempurna. Kepercayaan dirinya hilang karena ia hanya menjadi bahan ejekan teman-temannya. Tapi, kini Labonya justru membuat gadis lain iri. Saat yang lain berjuang tampil cantik untuk menjadi model, Labonya malah dipercaya sebuah toko fashion, NEXT, sebagai model produk-produk mereka.

NEXT menawarkan kesempatan kepada Labonya karena sosok Labonya dinilai mampu menginspirasi perempuan untuk tetap bisa terlihat cantik apa adanya, apa pun bentuk dan kondisi fisik mereka, karena kecantikan tak hanya apa yang terlihat di luar, tapi juga terpancar dari dalam diri seorang perempuan. Labonya sendiri mengaku lelah terus-menerus menyesali kondisi fisiknya selama belasan tahun, karenanya ia langsung menerima tawaran emas itu. Dan terbukti, paras cantik Labonya ini memberikan warna tersendiri saat pembukaan toko NEXT di Burlet.



Serupa dengan Labonya, Joanna Rowsell pun sukses menunjukkan prestasinya. Tahun lalu, perempuan 23 tahun ini meraih emas di cabang olahraga balap sepeda Olimpiade London mewakili negara asalnya, Britania Raya. Prestasi Jo luar biasa, tapi yang menjadikannya lebih istimewa adalah ia berjuang di tengah kebotakan permanen yang dideritanya. Penyakit yang dikenal dengan nama alopecia ini merupakan kerontokan rambut jangka panjang yang disebabkan banyak hal, di antaranya faktor genetik dan kekurangan nutrisi. Sejak usia 10 tahun Jo sudah tak memiliki alis, dan setahun kemudian hampir semua rambut di kepalanya rontok.

Kondisi fisiknya yang tak seperti perempuan kebanyakan membuat Jo minder, sehingga ia lebih suka menyendiri, mengisi hari-harinya dengan membaca buku, sampai suatu ketika ia menemukan kebahagiaan saat bersepeda. Kepercayaan dirinya pun bangkit seiring dengan semangatnya untuk menekuni olahraga balap sepeda, olahraga yang membuat Jo benar-benar jatuh cinta. Sekarang, semua orang akan melihatnya sebagai gadis penuh semangat dan prestasi. Ia berhasil membuat dirinya dan orang-orang di sekelilingnya bangga.

Labonya dan Jo berhasil membuktikan kondisi fisik bukan penentu segalanya. Dan perempuan cantik, bukan hanya dilihat secara fisik. Perempuan cantik, tak melulu memiliki paras sempurna, bentuk tubuh ideal, dan semua yang ada padanya “enak dilihat”, melainkan, yang lebih penting, memiliki kecantikan hati, kepribadian, juga semangat untuk maju.  “Dan kecantikan itu semakin terpancar apabila perempuan menikmati hidupnya, percaya diri, dan positif,” ujar psikolog Ratih Ibrahim dari Personal Growth saat kami temui dalam sebuah acara.

Bagaimana Fimelova, masih tak berani menatap mimpi dan berprestasi cuma karena hari ini kurang nyaman dengan pakaian kerja atau lupa membawa kotak make up? Lupakan. Labonya dan Jo yang mengalami kekurangan fisik permanen saja berhasil move on, kenapa kita tidak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *